Minggu, 01 Mei 2016

DUNIA PERTELEVISIAN TIDAK BERKUALITAS !!

Gambar ini diambil dari website

Adanya televisi dalam kehidupan manusia telah menghadirkan suatu peradaban baru, sebab televisi memiliki fungsi yang sangat beragam yakni sebagai sumber informasi, kontrol sosial, media edukasi dan media hiburan. Namun pada perkembangannya, program televisi kita lebih mengutamakan untuk mendapatkan keuntungan yaitu untuk mencari ratting, tidak melihat pada kebutuhan masyarakat. Sehingga hal ini berdampak negatif pada konsumen, terutama terhadap moral anak-anak dan remaja.
        

Hal ini terbukti melalui hasil analisis uji pengaruh parsial, bahwa ada pengaruh yang bermakna (signifikan) antara variabel bebas, yaitu judul film(X5), aktor & aktris(X6), adegan mesra(X7), dengan variabel terikat variabel perkembangan moral remaja(Y1). Lebih lanjut dari hasil analisis uji pengaruh parsial adegan mesra(X7) adalah variabel yang paling signifikan mempengaruhi perkembangan moral remaja(Y1), hal ini terbukti dari nilai koefisien regresi(b) variabel kebutuhan sosial(X7) paling besar dibandingkan variabel bebas(X) lainnya. (Diahloka, 2012, hal. 28).

Selain itu menurut Berkowitz (1993) bahwa kekerasan dalam berita televisi dapat mempengaruhi penontonnya untuk menjadi lebih agresif.  (L. Dion Praditya, 1999, hal. 52).

Maka sudah saatnya kita sebagai masyarakat harus cerdas dan bijak memilih program televisi yang berkualitas. Pemerintah juga harus bertindak tegas bagi siapapun yang melanggar aturan sebaimana Pemerintah Perancis pada (Caraher, 2006, hal. 597) bahwa If advertisers do not co-operate with this measure, they will be required to pay a 1.5% tax to finance health promotion.










REFERENSI

Diahloka, C. (2012). PENGARUH SINETRON TELEVISI DAN FILM TERHADAP PEREKMBANGAN MORAL REMAJA. REFORMASI, 2(1).

Praditya, L. D., Wimbarti, S., & Helmi, A. F. (1999). Pengaruh Tayangan Adegan Kekerasan Yang Nyata Terhadap Agresivitas. Jurnal Psikologi, 26(1), 51-63.

Caraher, M., Landon, J., & Dalmeny, K. (2006). Television advertising and children: lessons from policy development. Public Health Nutrition, 9(05), 596-605.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar